Dark Mode Light Mode

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Membangun Tim Event Organizer: Dari Ide Kecil ke Tim Andal
Kafe Kekinian yang Nggak Cuma Nyaman, Tapi Juga Membawa Dampak Positif bagi Lingkungan
Solo Lifestyle: Tren Hidup Mandiri yang Makin Diminati

Kafe Kekinian yang Nggak Cuma Nyaman, Tapi Juga Membawa Dampak Positif bagi Lingkungan

Surabaya, 21 Oktober 2025~Ngopi itu asik, apalagi kalau ditemani suasana yang nyaman dan yang penting, ramah lingkungan. Sekarang, makin banyak kafe yang sadar akan pentingnya menjaga bumi. Mereka gak cuma mikirin rasa dan aroma kopi, tapi juga soal bagaimana mereka bisa berkontribusi mengurangi sampah dan polusi.

Mengganti Sedotan Plastik dengan Sedotan Bambu

Salah satu langkah sederhana tapi berdampak besar yang banyak dilakukan adalah mengganti sedotan plastik dengan sedotan bambu. Sedotan bambu ini bukan cuma ramah lingkungan karena bisa digunakan ulang dan cepat terurai, tapi juga punya nilai estetika alami dan unik. Selain mengurangi limbah plastik yang punya masa hidup ratusan tahun, menggunakan sedotan bambu juga bantu mendukung ekonomi berkelanjutan, karena banyak produsen lokal yang membuatnya dari bahan bambu yang tumbuh cepat dan mudah diperbaharui.​

Advertisement

Ampas Kopi yang Kini Bernilai Ekonomi

Sisa kopi alias ampas kopi yang biasanya dianggap limbah juga mulai dilirik sebagai bahan yang berguna. Banyak kafe yang mengumpulkan ampas kopi untuk diolah jadi pupuk organik cair atau kompos. Pupuk dari ampas kopi ini bagus untuk tanaman karena mengandung nutrisi alami. Bahkan, ampas kopi bisa dijadikan bahan baku produk kreatif lain, seperti sabun, lilin aromaterapi, bahkan produk kerajinan tangan. Dengan cara ini, limbah kopi dikurangi, dan lingkungan jadi lebih bersih.​

Baca Lain nya:  Gimana Caranya Biar Produk Kuliner Kamu Viral? Intip Tips Jitu Biar Produk Kamu Jadi Makin Ngehits

Energi dan Material Ramah Lingkungan

Beberapa kafe juga sudah menggunakan tenaga surya untuk menghemat energi listrik dan memakai bahan bangunan ramah lingkungan, seperti kayu daur ulang atau material organik. Mereka mendesain interiornya dengan konsep minimalis alami supaya tidak terlalu membebani sumber daya alam dan menambah kenyamanan pengunjung.

Contoh Kafe Ramah Lingkungan di Indonesia

Di Jakarta, ada beberapa contoh kafe yang sudah menerapkan konsep ini dengan serius. Misalnya, ECAPS Cafe di Kemang yang menerapkan zero waste dengan mengelola sampah organik menjadi kompos dan sampah anorganik disalurkan ke industri daur ulang. Mereka juga mengurangi sampah residu dengan metode khusus sehingga dampaknya ke lingkungan bisa minimal.​

Di Bandung, Kopi Kito sudah lama pakai sedotan bambu, rajin mengajak pelanggan pakai tumbler reuse, dan mengolah ampas kopi menjadi pupuk untuk petani lokal. Mereka juga edukasi konsumen supaya ikut peduli menjaga lingkungan lewat tindakan kecil sehari-hari.​

Kenapa Kamu Harus Support Kafe Ramah Lingkungan?

Dengan ngopi di kafe yang peduli lingkungan, kamu secara langsung mendukung usaha pelestarian bumi. Dari hal kecil kayak pakai sedotan yang mudah terurai sampai ikut mengurangi limbah kopi, itu semua berdampak besar kalau dilakukan bersama-sama. Kafe ramah lingkungan juga biasanya mengedukasi pengunjung tentang pentingnya pola hidup yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Jadi, selain memuaskan cita rasa kopi, kamu juga dapat ilmunya!

Baca Lain nya:  Rekomendasi Cafe Viral & Instagramable di Surabaya "Cocok untuk Gen Z"

Dari semua pilihan kafe ramah lingkungan yang sudah dibahas, mana nih yang paling bikin kamu pengen langsung cobain nongkrong sambil ngopi sambil peduli bumi? Jangan lupa terus pantau update seru dan inspiratif di agendakota.id biar kamu gak ketinggalan rekomendasi kafe hits dan informasi lainnya!

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Membangun Tim Event Organizer: Dari Ide Kecil ke Tim Andal

Next Post

Solo Lifestyle: Tren Hidup Mandiri yang Makin Diminati

Advertisement