Dark Mode Light Mode

Festival Payung Indonesia XIII Bawa Warisan Budaya ke Ruang Kreatif Solo

Para peragawati memamerkan payung lukis hias di panggung Festival Payung Indonesia Taman Balekambang. Para peragawati memamerkan payung lukis hias di panggung Festival Payung Indonesia Taman Balekambang.
Momen peragawati memamerkan ragam motif payung lukis di panggung Festival Payung Indonesia.

Festival Payung Indonesia XIII Hadirkan Seni dan Budaya di Solo

Deretan payung hias warna-warni sukses mempercantik kawasan Taman Balekambang, Solo, lewat ajang Festival Payung Indonesia XIII pada 4–6 September 2026. Perhelatan ini hadir sebagai ruang perayaan seni dan kreativitas yang sarat akan nilai sejarah.

Festival Payung Indonesia tidak hanya menempatkan payung sebagai benda tradisional. Unsur seperti bentuk, motif, warna, dan teknik pembuatan dapat dikembangkan menjadi karya seni maupun produk kreatif.

Festival Payung Solo: Perpaduan Harmonis Antara Tradisi Nusantara dan Sentuhan Modern

Payung memiliki keterkaitan dengan berbagai tradisi di Indonesia. Setiap daerah memiliki karakter tersendiri yang dapat terlihat melalui desain dan proses pembuatannya.

Advertisement

Selain itu, perkembangan industri kreatif memberikan peluang untuk mengolah unsur tradisional menjadi karya dengan pendekatan yang lebih modern. Festival Payung Solo menjadi ruang yang mempertemukan nilai budaya dengan kreativitas.

Pertunjukan Tari Budaya Indonesia di Festival Luar Ruangan
Penampilan Tari Kipas tradisional oleh para penari muda di Festival Payung Indonesia.

Melalui pendekatan tersebut, warisan budaya dapat diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas. Kegiatan budaya di Solo juga dapat menjadi ruang bagi seniman, perajin, komunitas, dan pelaku kreatif untuk mengembangkan karya berbasis tradisi.

Festival Payung Solo Digelar di Taman Balekambang

Taman Balekambang menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan selama tiga hari. Pada 4 dan 5 September 2026, kegiatan berlangsung pukul 07.00–22.00 WIB. Sementara itu, pada 6 September 2026, kegiatan berlangsung pukul 09.00–22.00 WIB.

Pemilihan ruang terbuka tersebut mendukung konsep festival budaya Solo yang mempertemukan seni, tradisi, kreativitas, dan masyarakat dalam satu agenda.

Perpaduan Seni dan Kreativitas

Payung dapat dikembangkan sebagai objek seni, dekorasi, kerajinan, hingga produk kreatif. Di sisi lain, pengembangan tersebut menunjukkan bahwa tradisi dapat terus memiliki relevansi melalui inovasi tanpa menghilangkan identitas budayanya.

Kehadiran agenda seni dan budaya Solo ini turut menambah ragam kegiatan yang mengangkat tradisi melalui pendekatan kreatif. Dengan demikian, Festival Payung Indonesia menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus mengembangkan budaya melalui kreativitas.

Festival telah selesai dilaksanakan pada 6 September 2026. Informasi mengenai event, festival, komunitas, dan berbagai agenda menarik lainnya dapat ditemukan melalui AgendaKota.id.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Ngarsopurock 2026 Hadirkan Ruang Apresiasi Musik Rock di Kawasan Ngarsopuro Solo

Next Post
Penari berbusana hijau dan putih tampil di panggung festival Solo International Performing Arts (SIPA) dengan latar belakang dekorasi bundar dan logo SIPA yang menyala.

Solo International Performing Arts 2026: Dari Panggung Seni hingga Ruang Budaya

Advertisement