
SURABAYA — Surabaya terkenal sebagai Kota Pahlawan dan pusat bisnis Jawa Timur yang megah. Namun, kota ini ternyata menyimpan ribuan narasi tersembunyi. Hal tersebut terungkap dalam pameran fotografi kolaboratif “Suradaya – What Remains Unseen”. Pameran ini telah sukses digelar di Orasis Art Space, Citraland, Surabaya pada 18–27 September 2026 lalu.
Acara lintas budaya ini lahir dari kolaborasi Wisma Jerman Surabaya dan Institut Français d’Indonésie (IFI) Surabaya. Selain itu, proyek ini didukung penuh oleh Franco-German Cultural Fund (FGCF). Program ini mempertemukan 12 fotografer muda asal Indonesia dan Jerman untuk membongkar sudut-sudut unik Kota Surabaya.
Membongkar Stereotip Lewat Kaca Mata Generasi Muda
Nama Suradaya diambil dari akronim Surabaya Berdaya. Nama ini menggambarkan dinamika ruang perkotaan yang terus bertransformasi. Melalui subtema What Remains Unseen, publik diajak melihat kembali persepsi visual tentang Surabaya.
“Gambar tidak bisa mewakili realitas secara utuh karena selalu bersifat selektif,” tegas Mike Neuber, perwakilan Wisma Jerman Surabaya saat pembukaan acara tersebut.
Oleh karena itu, pameran ini memfasilitasi peserta melalui pendampingan intensif dari institusi internasional. Peserta mendapat bimbingan dari Hochschule Hannover (Jerman) dan ENSP Arles (Prancis).
12 Kreator Muda di Balik Layar
Sebelum pameran dimulai, 12 peserta pilihan mengikuti serangkaian pelatihan intensif. Mereka mempelajari etika fotografi dokumenter, visual literacy, hingga teknologi visual.
Berikut adalah deretan talenta muda yang terlibat dalam proyek Suradaya 2026:
-
Indonesia: Amadeus Mozes Wiratmoko, Anugra Pratama Rameli, Claudia Suciono, David Akbar Maulana, Luvita Ardiona P., M. Ranau Alejandro, Patricia Chelsea, Salwa Al Kharamain, Sherly Aprilia, dan Tufail Rosyad Abdi.
-
Jerman: Jasper Hill dan Lowis Käßing.

Melawan Misinformasi dan Eksperimen AI Generatif
Salah satu pesan utama dalam pameran ini adalah Fight Against Misinformation. Di era digital saat ini, manipulasi gambar sangat mudah terjadi. Oleh sebab itu, Suradaya 2026 hadir sebagai ruang edukasi agar publik lebih kritis.
Sajian dalam pameran ini meliputi beberapa medium menarik:
-
Fotografi Dokumenter Intim: Potret kehidupan komunitas marginal dan ruang-ruang transisi kota yang mulai tergerus zaman.
-
Penggabungan Materi Arsip: Integrasi foto kuno dan dokumen historis untuk memetakan perubahan kota.
-
Prediksi Surabaya Tahun 2100 via AI: Inovasi kecerdasan buatan (AI Generative Image) untuk memvisualisasikan wajah Surabaya di masa depan.
Pameran Inklusif Tanpa Biaya Masuk
Suradaya 2026 mendapat banyak pujian karena sangat inklusif dan ramah disabilitas.
-
Fasilitas Ramah Disabilitas: Menyediakan jalur ramp kursi roda serta tur dengan Juru Bahasa Isyarat Indonesia (JBI).
-
Aksesibilitas Pendidikan: Menggelar tur interaktif khusus anak-anak serta fasilitas khusus bagi tenaga pendidik dan media.
-
Tanpa Biaya Masuk: Seluruh rangkaian pameran dibuka gratis untuk masyarakat umum melalui sistem reservasi.
Bersiap Melebarkan Sayap ke Eropa
Pameran ini berhasil memikat ribuan pengunjung di Surabaya. Selanjutnya, rangkaian karya ini disiapkan untuk melangkah ke panggung internasional. Karya para peserta akan diboyong ke Jerman dan Prancis melalui program traveling exhibition.
Melalui diplomasi budaya Kerjasama Borobudur, karya para fotografer muda ini siap memperkenalkan konteks sosial-budaya Surabaya kepada masyarakat Eropa.
Mau Bikin Event Seperti Ini Tanpa Pusing Urus Tiket?
Mengelola pameran seni atau acara komunitas kini makin praktis. Kalau kamu mau bikin event serupa tanpa ribet urus registrasi dan sistem masuk pengunjung, langsung kelola ticketing kamu di Agendakota.id. Mulai dari tiket gratis, e-ticket berbayar, sampai check-in di lokasi, semuanya bisa diatur mudah dalam satu platform!