Dark Mode Light Mode

Jakarta Biennale 2026 KEBAL: 20 Seniman Angkat Isu Ketahanan Warga dan Krisis Kehidupan Kota

Pengunjung sedang melihat pameran seni bertema Angkor Project dengan spanduk gantung, instalasi kerajinan, dan layar video. Pengunjung sedang melihat pameran seni bertema Angkor Project dengan spanduk gantung, instalasi kerajinan, dan layar video.
Suasana hangat di dalam galeri seni yang menampilkan beragam karya instalasi, fotografi, dan dokumentasi budaya.

Jakarta Biennale 2026 KEBAL: Seni Kontemporer Mengangkat Ketahanan Warga Kota

Jakarta Biennale 2026 bertajuk “KEBAL” telah berlangsung pada 4–28 Oktober 2026 di Galeri Cipta 1, Galeri Cipta 2, dan Ruang Museum Koleksi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Pameran seni rupa kontemporer ini menghadirkan sekitar 20 seniman lokal dan internasional yang mengangkat isu ketahanan masyarakat, identitas kelas pekerja, serta perubahan kehidupan perkotaan.

KEBAL, Refleksi Perjuangan Warga Mempertahankan Ruang Hidup

Tema “KEBAL” tidak hanya merujuk pada kemampuan seseorang untuk menghadapi tekanan. Konsep ini juga menggambarkan daya tahan individu dan komunitas dalam menghadapi perubahan sosial, ekonomi, serta lingkungan yang terus berlangsung.

Kenaikan harga properti dan biaya hidup menjadi sejumlah persoalan yang memengaruhi kehidupan masyarakat Jakarta. Kondisi tersebut mendorong sebagian warga untuk berpindah ke wilayah pinggiran atau berjuang mempertahankan tempat tinggalnya di tengah perkembangan kota.

Advertisement

Seorang pria berjalan di depan karya instalasi kain biru bergambar rumah adat Omah Kendeng dan barisan petani ber-caping.
Pengunjung melintas di depan karya seni instalasi bertema “Omah Kendeng”.

Melalui tema ini, Jakarta Biennale 2026 menghadirkan perspektif mengenai resiliensi atau kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi. Gagasan tersebut juga menghubungkan pengalaman warga Jakarta dengan komunitas lain yang menghadapi persoalan serupa di berbagai belahan dunia.

Tiga Ruang Pamer Menghadirkan Beragam Karya Seni

Pameran utama diselenggarakan di Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki. Galeri Cipta 1, Galeri Cipta 2, dan Ruang Museum Koleksi menjadi tempat untuk menampilkan karya dengan pendekatan artistik yang beragam.

Pengunjung dapat menemukan instalasi, lukisan, karya dua dan tiga dimensi, audiovisual, serta kriya. Penggunaan berbagai medium tersebut memberikan kesempatan bagi seniman untuk menyampaikan gagasan melalui bentuk visual, tekstur, suara, dan benda sehari-hari.

Karya Seniman Menyoroti Lingkungan dan Kehidupan Urban

Sekitar 20 seniman berpartisipasi dalam Jakarta Biennale 2026. Karya mereka dipilih oleh Majelis Jakarta berdasarkan keterkaitannya dengan tema resiliensi, tanpa kurator tunggal.

Ruang pameran seni kontemporer bernuansa dinding hijau yang menampilkan instalasi ranting kayu, sampah daur ulang, serta karya kertas yang tergantung.
Seorang pengunjung mengamati instalasi seni unik berbahan dasar kayu dan material daur ulang di dalam galeri.

Artery Performa menggunakan sampah plastik dari Bantar Gebang untuk menyoroti persoalan limbah dan ekonomi perkotaan. Arif Furqan mengangkat pencemaran Sungai Citarum melalui kain dan kertas berbahan eceng gondok. Sementara itu, Alyakha Kolektif menampilkan lukisan di atas kulit kayu khombow yang membahas kerusakan lingkungan dan hilangnya ingatan kolektif masyarakat adat Papua.

Beragam karya tersebut menjadikan seni rupa sebagai media untuk menyampaikan persoalan lingkungan dan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Jakarta Biennale 2026 Menghubungkan Seni dengan Realitas Kota

Jakarta Biennale 2026 menempatkan seni sebagai ruang dialog untuk membahas persoalan hunian, pekerjaan, lingkungan, mobilitas, dan ketimpangan akses terhadap ruang kota. Tema “KEBAL” memberikan perhatian pada kemampuan masyarakat untuk bertahan di tengah tekanan sekaligus menghadirkan kritik terhadap kondisi yang memengaruhi kehidupan urban.

Anyaman bambu dan serat alam tergantung di tengah ruang galeri pameran dengan spanduk gantung Angkor Project di bagian kanan.
Detail karya seni instalasi anyaman gantung yang dipamerkan di ruang galeri seni.

Pameran ini juga memperkuat peran Taman Ismail Marzuki sebagai ruang pertemuan bagi seniman, komunitas, dan masyarakat. Melalui karya yang beragam, seni kontemporer dapat menjadi sarana untuk memahami pengalaman kolektif serta mendorong perhatian terhadap persoalan sosial.

Pantau terus AgendaKota.id untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai pameran seni, festival budaya, pertunjukan, dan berbagai acara menarik lainnya di Indonesia.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Suasana megah stadium dalam panggung pembukaan WorldSkills Shanghai 2026 yang dipenuhi bendera peserta dan layar silinder besar bertuliskan China.

WorldSkills Shanghai 2026: Dari Keahlian Vokasi Menuju Karier Global

Next Post
Pameran desain interior modern di galeri seni dengan instalasi furnitur artistik, pencahayaan hangat, dan lukisan dinding.

55 Karya Desain Mendunia Hadir di Jakarta Lewat SaloneSatellite 1998–2026

Advertisement